"Titik emas" di Peta Emas bukan titik yang dijamin berisi emas. Itu titik yang, dari hitungan satelit dan bentuk lahan, paling masuk akal untuk diperiksa lebih dulu.
Emas di alam butirannya halus, tertimbun tanah dan tertutup pohon, jadi tidak ada satelit yang bisa memotretnya. Yang bisa dihitung adalah tempat emas biasanya terkumpul: dasar lembah lama, teras sungai, dan hilir batuan yang pernah diubah air panas. Dari situ keluar beberapa jenis titik.
Ruas lembah atau teras yang lolos semua saringan dan belum digarap orang. Huruf di cincinnya menunjukkan alasannya: H di hilir zona sinyal emas, T di teras sungai lama, V di lembah yang belum tersentuh. Di scan timah ada juga A, D, B, C dan AI.
Titik di dasar sungai yang menampung air dari seluruh bukit di atasnya. Pasirnya mewakili isi bukit-bukit itu. Ini uji paling murah, karena cukup mengambil contoh pasir tanpa menggali.
Titik paling dalam di hamparan kuning–oranye, yaitu tanah yang duduk lebih rendah dari sekitarnya. Angka meternya menunjukkan seberapa rendah. Makin besar, makin layak didahulukan.
Kumpulan piksel yang menunjukkan jejak besi dan lempung sekaligus, dan bertahan di banyak tanggal citra. Ini petunjuk awal. Yang diuji lebih dulu adalah titik S dan P di hilirnya, bukan zonanya.
Lahan yang sedang dibuka atau bekas galian lama yang terbaca dari bentuk tanah. Bukan target. Titik target otomatis dijauhkan dari sini.
Penjelasan bergambar ada di halaman cara menentukan titik, dan contoh hasil scan lengkap dengan nomor penunjuk ada di panduan PDF.
Urutannya dari yang paling murah: titik S dulu, lalu titik P, lalu koridor K yang paling dalam. Kalau contoh dari titik S menunjukkan butiran emas, sumbernya ada di bukit hulu, dan titik P di sekitarnya layak diuji dengan sumur uji atau bor tangan.
Semua titik adalah petunjuk, bukan bukti. Kadar yang sah hanya keluar dari laboratorium, dan kegiatan tambang wajib berizin.
Lokasi emas yang sudah terdokumentasi dirangkum per pulau: Sumatera, Kalimantan, Papua, Jawa, Sulawesi.