Indonesia termasuk penghasil timah terbesar di dunia, dan hampir seluruhnya datang dari satu tempat: Kepulauan Bangka Belitung. Halaman ini merangkum di mana timah berada, jenis endapannya, apa yang terlihat dari satelit, dan aturan yang berlaku.
Timah Indonesia adalah ujung selatan jalur timah Asia Tenggara, sabuk granit berumur Trias sampai Jura yang membentang dari Myanmar dan Thailand, menyusuri Semenanjung Malaysia, lalu turun ke Kepulauan Riau (Singkep, Karimun, Kundur), Bangka, dan Belitung. Granit-granit inilah sumber kasiteritnya. Bangka sudah ditambang sejak awal abad ke-18, dan sampai hari ini sebagian besar produksi nasional berasal dari pulau ini dan perairannya.
Kasiterit di dalam granit yang berubah menjadi greisen, atau di urat kuarsa di sekitarnya. Digali sebagai tambang bawah tanah atau terbuka di batuan keras. Di hasil scan, tanda greisen terbaca dari sensor hyperspectral dan dipakai sebagai umpan dari hulu (kelas C).
Granit yang melapuk di tempat meninggalkan kasiterit di lapisan tanah di atasnya dan di lereng tepat di bawahnya. Penambang menyebutnya kulit. Di hasil scan ini kelas D.
Butiran kasiterit yang terbawa air lalu mengendap di dasar lembah sungai lama, menempel batuan dasar. Inilah yang digali kolong-kolong Bangka. Teras sungai lama (kelas T), lembah yang belum tersentuh (V), dan ruas di sela galian (A) adalah target di jenis ini.
Lembah yang sama berlanjut ke dasar laut dangkal saat permukaan laut dulu lebih rendah. Kaksa di sana digali kapal keruk dan kapal isap. Di hasil scan untuk titik pesisir, engine membaca kanal dasar laut, lembah tertimbun, dan zona kerukan yang masih aktif.
Kolong adalah kolam bekas galian timah. Karena galian mengikuti kaksa, sebaran kolong adalah peta tempat timah terbukti ada. Engine Peta Emas memetakan kolong dari citra Sentinel-2 dan hanya mengakuinya kalau muncul di dua tanggal berbeda. Saat ini 4.086 kolong se-Bangka Belitung tersimpan di basis engine, dan setiap titik rekomendasi dijauhkan dari semuanya. Kolong yang baru muncul di citra terkini ditandai terpisah sebagai tanda area sedang digarap.
Dari peta ketinggian DEMNAS 8 meter, engine mencari tanah yang duduk lebih rendah dari sekelilingnya dalam radius sekitar 2 kilometer. Bentuk seperti itu adalah bekas lembah sungai lama. Saat diuji ke kolong nyata, koridor ini membedakan lokasi kolong dari yang bukan dengan AUC 0,87. Lembah yang sudah rata tertimbun digambar sebagai garis putus-putus, karena jalurnya perkiraan.
Sebagian besar wilayah bertimah di Bangka Belitung sudah berada di dalam wilayah izin usaha pertambangan, termasuk milik PT Timah, atau di kawasan hutan. Kegiatan tanpa izin melanggar UU No. 3 Tahun 2020 dan merusak lingkungan. Untuk penambang rakyat, jalurnya adalah Izin Pertambangan Rakyat di wilayah yang ditetapkan pemerintah. Peta Emas dibuat untuk riset dan perencanaan: pemegang izin, badan usaha, konsultan, dan kegiatan eksplorasi resmi.
Satelit tidak melihat timah. Yang dibaca adalah kolong, bentuk lembah, dan batuan sumbernya. Kepastian kadar dan kedalaman hanya dari bor dan laboratorium.
Hampir semuanya di Kepulauan Bangka Belitung, ditambah Kepulauan Riau (Singkep, Karimun, Kundur) di jalur timah Asia Tenggara yang sama. Di luar jalur itu timah hanya muncul sebagai mineral ikutan.
Istilah penambang Bangka untuk lapisan pasir dan kerikil pembawa kasiterit yang mengendap di dasar lembah, menempel batuan dasar. Ini yang digali di tambang placer darat dan oleh kapal isap di laut.
Kolong lama terlihat di dua citra tanggal berbeda dan menjadi bukti bahwa di situ pernah ada timah. Kolong baru hanya muncul di citra terkini: tanda area sedang digarap sekarang, jadi bukan target, dan status izinnya perlu dicek.
Mode timah dirancang untuk Bangka Belitung: basis 4.086 kolong, layer prospektivitas, dan koridor lembah purba se-provinsi hanya ada di sana. Di tempat lain scan tetap berjalan untuk kotak yang punya peta ketinggian 8 meter, tanpa basis kolong dan lapisan provinsi.