Tidak ada satelit yang bisa melihat emas. Butirannya terlalu halus, tertimbun tanah, dan tertutup pohon. Yang bisa dibaca dari orbit adalah tanda-tanda di sekitarnya, dan itu yang dikerjakan Peta Emas.
Memotret seluruh Indonesia kira-kira lima hari sekali dalam 13 warna, termasuk inframerah yang tidak terlihat mata. Dari sini dibaca dua tanda batuan ubahan: jejak besi dan jejak lempung. Engine menggabungkan sampai 12 citra terbersih dari dua tahun terakhir, sehingga yang tersisa hanya sinyal yang muncul konsisten.
Sensor di stasiun luar angkasa yang membelah cahaya menjadi 285 warna. Tiap mineral punya pola serapan sendiri, jadi oksida besi, kaolinit, ilit dan alunit bisa dikenali satu per satu. Saat ini 642 rekaman EMIT di atas Indonesia sudah diolah. Cakupannya belum merata, jadi dipakai sebagai bukti pendukung di tempat yang sudah terpotret.
Bukan foto, melainkan bentuk permukaan bumi. Dari sini engine menghitung ke mana air mengalir dan di mana lembah lama berada. Emas berat, jadi ia jatuh lebih dulu saat arus melemah dan terkumpul di dasar lembah seperti itu.
Arti tiap tanda di hasil scan dijelaskan di halaman titik emas.
Cara membaca warna batuan kami diuji pada 63 lokasi emas yang sudah dikenal, 25 titik acak dan 7 lanskap pembanding. Di lahan terbuka, kemampuannya membedakan lokasi emas dari yang bukan terukur 0,82 pada skala 0,5 (menebak) sampai 1 (sempurna). Model prospektivitas regionalnya terukur 0,75 dengan uji silang antarwilayah.
Hasil satelit adalah penyaring: dari ribuan hektar menjadi beberapa titik yang masuk akal diperiksa. Pembuktiannya tetap di lapangan, dan kegiatan tambang wajib berizin.